Page 19

Kisah Sebelumnya...

“Maaf, saya kan’ asisten dosen kamu. Seharusnya kamu bisa lebih menghormati saya dan tidak melakukan hal seperti ini.”
Begitulah jawaban Milla, meskipun ucapannya dirasa tidak sesuai dengan apa yang dia maksud.

Kenny diam sesaat, menelan ludah, kemudian melanjutkan.
“Saya merasa nggak melakukan hal yang tidak hormat. Saya cuma menyampaikan saja apa yang seharusnya...”

Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berkata pelan,
“Wajar kan’ kalo cowok naksir sama cewek. Meskipun si cewek tuh asisten dosennya.”

“Oke”, sahut Milla. “Memang kamu bebas punya perasaan sama cewek manapun. Cuman..., jangan terhadap saya...”

“Kenapa?” Kenny membalas dengan nada memprotes.

Milla terdiam.
Karena saya asisten dosenmu, yang lebih senior dari kamu...
Percuma saja, si Kenny ini telah memberikan alasannya tadi.
Karena kamu bukan kriteria saya...
Jawaban seperti itu rasanya terlalu kejam.

Yah, tidak ada gunanya lagi melanjutkan pembicaraan tersebut, pikir Milla. Masalah yang dikira simpel ternyata terasa semakin kompleks baginya.

“Maaf, saya masih ada urusan lain, Kenny. Jadi..., selamat siang”, Milla memutuskan untuk mengakhirinya tanpa penutup yang jelas.

Kenny masih diam dan tetap duduk di tempatnya, saat Milla meninggalkannya sendiri.

Sambil melangkah tergesa-gesa, gadis itu mengarahkan pandangannya, menyapu seluruh koridor. Diam-diam, ada rasa khawatir juga kalau-kalau ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka berdua.

Akan sangat memalukan, apabila cerita semacam ini sampai terdengar di telinga orang lain. Apalagi di antara para mahasiswa yang selama ini belajar di kelas yang dibimbingnya.
Terbayang dalam benak Milla, saat dirinya berdiri mengajar di depan kelas. Sementara mereka semua ramai membicarakan gossip tersebut. Duh, mungkin akan lebih mudah bila dia mundur saja dari pekerjaannya sebagai asisten dosen, seandainya hal semacam itu benar-benar terjadi.

Tetapi, rupanya itulah saat terakhir Kenny hadir di jam asistensi-nya...

Awalnya, Milla merasa jantungnya berdebar kencang saat mulai memasuki ruang perkuliahan dan membayangkan sepasang mata pemuda yang menaruh hati padanya itu terus mengikuti langkahnya hingga sampai di samping layar OHP.

>>Bersambung