Kisah Sebelumnya...
Sambil menunggu beberapa detik sampai mahasiswa yang lain meninggalkan mereka berdua, Milla mengamati Kenny...
Pemuda itu tampak menunggunya dengan sabar. Jemarinya iseng mengetuk-ngetuk meja kecil di bangkunya. Baru kali ini Milla memperhatikan tampangnya, sebelumnya dia tidak terlalu mempedulikan para mahasiswanya, terutama yang pria, apalagi terhadap yang satu ini. Entah mereka itu culun, cerewet, malas, rajin atau bahkan yang tampan sekalipun. Bagi Milla, mereka itu anak didik, cuman yunior dan adik tingkat yang sama sekali tidak perlu membuat dia berpikiran yang bukan-bukan.
Penampilan si Kenny ini kelihatan seadanya, dan biasa-biasa saja. Mengenakan kaos oblong yang dirangkapi kemeja lengan pendek dan kancingnya dibiarkan terbuka. Tidak tampan dan sedikit lusuh. Ukuran badannya sedang-sedang saja, tegap tetapi tidak terlalu berotot. Kulitnya agak gelap, mungkin sering terpanggang sinar matahari dan potongan rambutnya... sudah waktunya ke tukang cukur kelihatannya.
“Maaf, menahan anda sebentar...”, Milla membuka percakapan, setelah menarik nafas sebentar. Dia melangkah mendekat dan tetap berdiri beberapa baris di depan pemuda itu.
“Kebetulan saya menemukan tulisanmu ini di lembar jawaban kuis kemarin...”
Tangannya baru saja bermaksud menyodorkan surat cinta dari lawan bicaranya itu. Tetapi, Kenny langsung menjawab,”Bener, itu saya yang menulisnya koq.”
"Tapi...” Milla tampak kesulitan melanjutkan introgasi-nya. Sebenarnya, dia mengharapkan sedikit perlawanan.
“Gak pantes nulis kalimat seperti ini di lembar kuis. Sangat tidak sopan!!!” Seharusnya itulah kalimat yang mesti dia semprotkan kepada pemuda di hadapannya itu.
“Daripada disimpen terus-terusan dalam hati, apa nggak lebih baik saya sampaikan aja toh...” Justru Kenny-lah yang menembaknya lebih dulu. Nada bicaranya datar dan sama sekali tidak terkesan kurang ajar.
Milla berusaha keras untuk langsung mendampratnya. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, dia ingin tertawa meratapi kekalahannya. Rasanya, Kenny sudah tidak lagi menganggap posisi sebagai mahasiswa dan asisten dosen di antara mereka berdua.
“Tapi... Ini lembar kuis. Gak sopan kamu nulis di sini”, Kali ini Milla mencoba mengalah dengan bersikap seperti layaknya seorang kakak kepada adiknya.
“Kalo gitu... Sori deh”, Sahut Kenny.
“Memang mestinya saya utarakan langsung. Gak pake surat-suratan kayak gini.”
Tampaknya cowok satu ini tetap nekad untuk maju terus.
>>Bersambung